GEMPITA

 

Di sebuah desa terpencil, ada sebuah rumah yang penghuninya selalu percaya kalau dengan berpendidikan kita bisa dapat hidup yang layak. Keluarga yang sederhana namun sang Ibu selalu memanjakan anaknya dengan buku. Setiap malam, sang Ibu selalu membacakan anaknya cerita donggeng atau kisah inspirasi kepada anaknya. Sang Ibu percaya, itu adalah bekal yang nanti anaknya gunakan kelak. Meskipun tidak ada harta yang berarti tapi sang Ibu percaya dengan buku, anaknya bisa tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi satu sama lain.

Kehidupan mereka sehari-hari masih sama dengan penduduk lainnya. Pergi ke sawah, memancing ikan, mencari kayu bakar, dan menanam sayur. Bedanya, mereka masih percaya kalau dengan berpendidikan hidup akan lebih sejahtera. Mereka percaya, dengan berpendidikan itu membuka peluang serta kesempatan. Itu yang sang Ibu harapkan pada anaknya, Gempita.

Gempita tumbuh menjadi anak perempuan yang sangat peduli dengan lingkungan. Setiap dia melangkah, ia selalu menemukan keresahan yang ingin sekali ia atasi. Seperti sampah yang terbuang di got-got. Karena keresahannya, Gempita berinisiatif untuk memanggil teman-temannya agar bersama-sama membersihkan sampah tersebut. Kesadaran dan rasa inisiatif yang dimiliki Gempita, ia menjadi sosok anak muda inspiratif di desanya. Ia tumbuh menjadi aktivis yang peduli dengan lingkungan.

Sang Ibu menghela nafas lega melihat putrinya tumbuh menjadi anak yang bermanfaat bagi orang lain. Namun, tetap saja hati sang Ibu tetap terasa pedih karena melihat anak perempuannya tumbuh tanpa sosok Ayah. Ayah Gempita meninggal dunia saat Gempita baru lahir karena kecelakaan. Gempita pernah bertanya pada sang Ibu, begini:

“Bu, bagaimana ya rasanya beranjak dewasa bersama sosok Ayah? pasti tidak ada rasa takut karena ada sosok pahlawan yang selalu siap melindungi kalau terjadi apa-apa,” ujarnya sambil tersenyum.

Sang Ibu hanya terdiam. Sesekali sang Ibu hanya berkata:

“Ayah kamu bangga anak perempuannya tumbuh jadi anak yang bermanfaat satu sama lain.”

Gempita tersenyum. Hatinya tersentuh mendengar perkataan sang Ibu.

“Bu, terima kasih sudah jadi sosok Ayah buat Gempita,” ujar Gempita lalu memeluk sang Ibu.


---

Cita-cita Gempita adalah menjadi seorang penulis. Ia ingin memotivasi anak muda di desanya dengan karya tulisan yang ia tulis. Perjalanan hidup Gempita membuatnya tersadar akan pentingnya memotivasi satu sama lain. Banyak tulisan yang Gempita tulis yang bernuansa tentang keadilan terhadap perempuan serta pendidikan perempuan. Gempita tahu kalau warga di desanya masih kental dengan budaya perempuan hanya bisa di rumah saja. Tak jarang banyak orang tua yang tidak memberikan kesempatan bagi anak perempuan untuk mengeksplor dunia luar. Mereka lebih mempercayai anak laki-laki ketimbang anak perempuan.

Melihat kondisi tersebut, Gempita merasa perlu gerakan yang harus ia lakukan agar budaya konservatif di desanya bisa berubah. Ia dengan perempuan satu kelas pada saat SMA dulu bersama-sama membuat gerakan Peduli Pendidikan Perempuan. Awalnya, banyak masyarakat yang tidak setuju dan tidak peduli dengan gerakan tersebut. Namun, percaya atau tidak, apa yang dimulai dari hati pasti akan sampai di hati juga. Gerakan mereka mulai disambut oleh kalangan anak muda. Bukan hanya perempuan saja, tapi anak muda laki-laki juga.

Setiap hari Jumat dan Sabtu, mereka membuat kegiatan baca buku dimana mereka akan berdiskusi mengenai isi buku tersebut untuk mendapat wawasan baru. Tidak hanya itu, teman Gempita juga membantu mencari bantuan beasiswa untuk menyekolahkan anak-anak yang orang tuanya kurang mampu membiayai.

Para warga yang dulunya tidak memberikan kesempatan pada anak perempuannya, mulai sadar karena gerakan yang dilakukan oleh Gempita dan temannya. Mereka mulai memberikan kesempatan-kesempatan yang sama seperti kesempatan yang mereka berikan pada anak laki-laki, seperti kesempatan belajar keluar kota.

 

“Pak, Bu, pendidikan menyelamatkan kita di desa ini,” ujar Gempita pada masyarakat di desa tersebut.

Teman Gempita tersenyum bangga lalu ia menambahi.

“Kita yang hidup di desa terpencil ini, butuh pendidikan. Pendidikan itu akan memberikan pemikiran dan pemikiran itu yang akan memberikan jalan untuk mencapai hidup sejahtera. Kalau kita merasa uang yang membuat kita berubah, kita salah. Pendidikan yang membantu kita selama ini. Cara berpikir. Uang bisa habis tapi pendidikan tidak akan.”

 

---

Sang Ibu melihat Gempita pulang. Sekali lagi ada rasa bangga melihat apa yang dilakukan oleh Ibu dulu membuahkan hasil. Memanjakan Gempita dengan buku-buku. Ibu selalu percaya buku-buku yang ia bacakan dulu untuk Gempita adalah harta berharga yang ia miliki. Meskipun dulunya Gempita sering dibilang kutu buku oleh tetangganya, tapi Gempita selalu ingat pesan Ibu.

 

“Gempita, tetap fokus pada diri sendiri selagi itu hal positif.”

Sore hari setelah hujan, sang Ibu dan Gempita duduk di depan teras rumah. Mereka berdua bercerita sembari menikmati teh hangat. Lalu Gempita berkata pada sang Ibu.

“Bu, terima kasih banyak. Karena didikan Ibu dulu, Gempita jadi seperti ini,” ujar nya sambil menggenggam tangan Ibunya.

“Gempita, dulu Ayah kamu selalu bilang begini. Tuhan sungguh baik karena menciptakan perempuan. Awalnya Ibu tidak mengerti maksud dari Ayah kamu. Tapi ketika kamu tumbuh menjadi perempuan yang bermanfaat bagi orang lain, Ibu jadi paham maksud dari perkataan Ayah kamu dulu,” ujar Ibu tersenyum.

Gempita tersenyum.

“Ayah kamu selalu bilang sesama perempuan harus saling merangkul agar sama-sama bertumbuh. Itu kalimat yang selalu ia ucapkan kalau Ibu lagi kesal dengan Ibu-ibu tetanggga. Ketika kamu tumbuh dewasa Gempita, apa yang kamu lakukan itu seperti apa yang Ayah kamu katakan dulu yaitu merangkul sesama perempuan untuk sama-sama bertumbuh,” ujar Ibu sambil menitikkan air mata.

Gempita memeluk Ibunya lalu berkata:

“Didikan Ibu yang buat Gempita seperti ini Bu. Jangan pernah bosan ngedidik Gempita ya, Bu.”

 

---

Gempita sudah membuat harum nama desanya. Seorang aktivis peduli lingkungan dan perempuan serta penulis membuatnya menjadi sosok inspiratif di kalangan anak muda. Gempita juga selalu memberikan kesempatan-kesempatan pada anak muda untuk tetap kreatif dengan membuat lomba-lomba seperti menulis puisi, drama, dan masih banyak lagi. Ia juga membuat kegiatan bersih-bersih lingkungan pada hari Sabtu dan banyak anak muda yang senang mengikuti kegiatan tersebut karena adanya kesadaran serta niat dari hati.

Gempita pernah bertanya begini pada sang Ibu:

“Bu, bagaimana rasanya mendapat pelukan dari sosok Ayah?”

Lalu Ibunya menjawab.

“Gempita, kamu sudah memeluk Ayah kamu melalui kegiatan-kegiatan positif yang kamu lakukan.”

Mulai saat itu, Gempita percaya apa yang Ibunya katakan. Ia sudah merasakan pelukan dari sosok Ayah melalui hal-hal baik yang ia rasakan. Ia percaya Ayahnya tetap menjadi sosok pahlawan di hidupnya. Meskipun Gempita tidak melihat secara langsung, tapi ia merasakannya.

 

 

 

 

Penulis|21/01/2023

Komentar