HOME
“Sebenarnya, apa yang kita cari?”
Dina menghembuskan nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Suasana dingin di kota ditambah jauh dari rumah selalu berhasil membuat malam mencekam. Dina melihat banyak orang berjalan entah kemana tujuan mereka, intinya seperti terburu-buru. Hujan gerimis membuat Dina mulai mengingat kenangan bersama keluarganya dulu. Dalam hati ia bertanya, apa gunanya berjalan jauh tapi jauh dari keluarga? Lalu ia bertanya pada Tia yang dari tadi sibuk mengambil foto lalu langsung diposting di akun Instagramnya.
“Sebenarnya, apa yang kita cari?”
Tia menoleh dengan tatapan bingung. Lalu, Dina bertanya lagi.
“Sebenarnya, apa yang kita cari selama ini?” Lalu Dina meminum kopi yang ia pesan tadi. Minum kopi adalah kesukaan Dina.
“Uang," jawab Tia singkat.
Setiap kali Tia dan Dina bertemu, mereka pasti akan mengulang topik yang sama. Dina yang selalu bertanya ‘Sebenarnya, apa yang kita cari?’ dan Tia yang selalu punya jawaban ‘uang’. Pertemanan mereka berdua memang aneh. Dina yang selalu ingin pulang ke rumah, sedangkan Tia selalu mencari alasan agar tidak bisa pulang rumah. Rumah. Apa itu rumah? Bukankah definisi rumah adalah sebuah bangunan yang menjadi tempat berlindung dari panasnya matahari atau dinginnya malam? Atau rumah adalah orang? Kalau orangnya pergi berarti kita tidak punya rumah? Sebenarnya, rumah adalah diri sendiri. Kita tidak perlu mencari rumah kalau definisi rumah adalah orang karena orang itu adalah diri sendiri.
“Uang nggak bisa buat kita bahagia, Ti," ujar Dina dengan tatapan kosong kedepan.
“Kata siapa?” tanya Tia.
“Kata gue lah, orang gue dari tadi ngomong sama Lo,” ujar Dina sedikit kesal.
“Menurut gue, ada beberapa hal yang bisa buat gue bahagia karna ada uang. Kalau gue ada uang, gue bisa jalan kemanapun yang gue mau, gue bisa beli apapun yang gue mau, intinya gue bahagia ada u……”
“Tapi Lo nggak pernah merasa cukup? Lo jauh dari rumah.”
“Rumah? Gue udah bisa beli rumah pake uang,” ujar Tia.
“Bukan itu maksud gue. Keluarga Lo,” ujar Dina.
“Lo tau kan, kalau selama ini definisi rumah bagi gue itu apa? Rumah bagi gue itu diri gue sendiri. Gue nyaman kok tinggal jauh dari keluarga, selama gue tau apa yang gue lakuin juga bisa buat mereka bahagia. Tiap hari gue video call sama mereka dan gue tetep merasa ada di dekat mereka,” ujar Tia.
“Tapi mereka butuh waktu lo buat pulang, Ti. Kadang, semakin kita beranjak dewasa, orang tua kita cuma butuh waktu dari anak-anaknya. Mereka butuh kita buat dengerin cerita-cerita mereka secara langsung, ujar Dina.
“Apaan sih, lo. Gue jadi sedih kan, gara-gara lo.”
Keadaan tiba-tiba hening. Dina tenggelam di pikirannya sendiri sedangkan Tia sedang mengirim foto-foto dirinya saat masih kecil di grup keluarga. Dan tentunya, grup WA keluarga Tia selalu dipenuhi canda tawa meski jarak memisahkan, Tia tidak pernah merasa jauh dari kata keluarga.
“Tapi, kayaknya pilihan lo buat nggak pulang kadang perlu buat gue,” ujar Dina tiba-tiba.
“Maksud lo?”
“Lo tau kan, bulan lalu gue mau banget pulang?”
“Iya, terus?”
“Tapi, gue nggak merasa kalau gue pulang ke rumah. Gue merasa asing, Ti.”
“Lo merasa asing karna lo nggak pernah jadi diri sendiri saat lo pulang. Din, jangan jadi orang lain hanya karena lo mau diterima. Lagian, orang tua lo aja nerima lo apa adanya, kenapa lo harus jadi orang lain?”
“Din, orang tua lo pasti bangga punya anak kayak lo. Punya anak yang hatinya baik banget. Thank you udah lahir didunia ini, jangan sedih lagi, yah.”
Terima kasih sudah membaca cerpen ini.
Komentar
Posting Komentar