ALANA
Alana yang biasanya dipanggil Lana oleh Bundanya datang sekolah pagi-pagi. Menurut Lana, datang pagi ke sekolah itu seperti ada hal baru yang diambil daripada nantinya berlari dan akhirnya lelah.
Lana adalah seorang anak tunggal dan tak pernah tahu bagaimana rasanya dipeluk oleh seorang Ayah. Ya, Ayah Lana sudah meninggal sejak Lana baru lahir. Ayah Lana meninggal karena kecelakaan saat Ayah Lana mengantar Bunda Lana menuju rumah sakit. Jika saja Ayah Lana tidak cepat meninggalkan dunia ini, Lana akan sangat bahagia karena masih bisa merasakan tangan seorang Ayah yang membelai kepalanya. Namun, itu tidak akan mungkin. Lana sudah kehilangan kesempatan itu. Mungkin itu sebabnya Lana selalu datang cepat ke sekolah. Karena Lana takut jika apa yang Ayahnya alami akan terjadi lagi jika ia datang terlambat. Bunda Lana menceritakan kejadian saat Ayah Lana meninggal. Kata Bunda Lana, mungkin kecelakaan itu tidak akan terjadi jika saja Ayah Lana segera membawa Bunda Lana ke rumah sakit.
***
Lana berjalan menuju kelasnya. Namun, langkahnya terhenti saat ia tak sengaja menemui seorang perempuan yang tengah menangis sejadi-jadinya. Lana melihat perempuan itu dengan tatapan sedih. Lana pun berniat untuk menghampiri perempuan itu. Jujur, Lana akan ikut sedih dan bahkan ikut menangis jika ia melihat orang yang dia kenal ataupun tidak, sedang menangis. Lana menyapa ramah pada perempuan itu dengan tulus, Lana memberi seulas senyum pada perempuan itu. Perempuan itu kaget saat Lana berdiri di sampingnya, lalu ia cepat-cepat menghapus air matanya seakan air mata adalah hal yang memalukan. Lana tetap tersenyum. Lana tahu siapa perempuan yang ada di sampingnya. Ya, dia adalah perempuan yang paling cantik dan banyak siswa-siswi yang senang dengannya. Dia adalah Karin, sang putri sekolah.
Namun, yang menjadi pertanyaan bagi Lana adalah Karin yang terlihat bahagia bisa menangis? Lana tahu, pertanyaannya sedikit absurd. Namun, aneh jika seorang Karin yang setiap saat terlihat sangat bahagia tiba-tiba menangis. Lana tidak salah membuat pertanyaankan?
" Ikut aku, boleh? " Ujar Karin pada Lana.
***
Lana tidak tahu harus menyikapi persoalan Karin. Karin mengajak Lana ke taman belakang sekolah. Cukup sepi untuk menceritakan apa yang sedang Karin alami pada Lana. Bagi Lana, kehidupan Karin jauh lebih buruk dari kehidupannya. Karin yang mempunyai keluarga lengkap ternyata tak seindah apa yang Lana bayangkan. Jujur, Lana sadar akan satu hal. Apa yang kita bayangkan terhadap orang lain, belum tentu benar atau belum tentu indah. Karin, sang putri sekolah ternyata menyimpan banyak luka. Terlihat bahagia namun justru banyak luka yang dirasakan. Bagaimana tidak? keluarga Karin tidak pernah akur. Setiap saat pasti ada pertikaian yang terjadi. Keluarga Karin memang punya segalanya namun tidak banyak tahu tentang segalanya.
Karin, dibesarkan dengan materi bukan kasih sayang dari orang tuanya. Karin juga sangat jarang merasakan pelukan dari Ibu atau Ayahnya. Yang mereka berikan hanyalah materi dan materi. Seakan hal itu adalah hal yang paling berharga bagi orang tua Karin. Sehingga, mereka lupa nilai kasih sayang justru sangat besar nilainya atau bahkan bisa mengalahkan materi yang orang tua Karin cari setiap hari. Karin menutupi semua lukanya dengan memberikan senyum. Setiap ke sekolah, Karin selalu berusaha agar bisa terlihat bahagia.
Karin ingin tahu bagaimana mendapatkan kebahagian yang tulus di sekolah. Karena, menurut Karin sekolah adalah rumah yang sesungguhnya. Karin baru pertama kali menangis di sekolah dan Lana adalah orang yang pertama kali melihat Karin menangis di sekolah. Karin tidak tahu bagaimana cara agar orang tuanya tidak pisah. Namun, orang tua Karin sama-sama egois. Mereka melupakan Karin dan pergi entah ke mana mencari materi yang setiap saat mereka puja itu.
***
Lana memeluk Karin dengan sangat erat. Seakan pelukannya bisa menghapus luka yang Karin rasakan. Ternyata apapun yang sudah ada belum tentu baik. Lana yang ingin merasakan pelukan dari seorang Ayah berbanding balik dengan Karin yang masih mempunyai seorang Ayah namun jarang dipeluk. Lana benar-benar binggung. Saat ia membutuhkan kedamaian dalam suasana keluarga yang lengkap, ternyata masih banyak orang yang tidak merasakan kedamaian itu walaupun mereka memiliki keluarga yang lengkap.
Lana melihat mata Karin. Lana melihat banyak luka di sana. Jika Lana bertukar posisi dengan Karin, mungkin Lana tidak akan sanggup menahan semua luka itu. Lana terus memeluk Karin. Lana berjanji akan menjadi sosok keluarga untuk Karin. Keluarga yang akan selalu memberikan arti kasih sayang pada Karin seutuhnya.
***
Sepulang sekolah, Lana memeluk Bundanya dengan sangat erat. Jujur, Lana beruntung menjadi seorang anak dari Bundanya. Lana memang tidak tahu bagaimana rasanya dipeluk oleh seorang Ayah. Namun, Bunda Lana justru membuat pelukan itu ada. Bunda Lana memang tidak punya segalanya. Namun, Bunda Lana tahu bagaimana cara memberikan kasih sayang pada seorang anak. Lana, sangat bersyukur.
Lana mengambil pelajaran dari kisah Karin. Ternyata yang terlihat bahagia, belum tentu bahagia dan yang punya segalanya belum tentu tahu segalanya.
Penulis|08/05/2021
Terima kasih sudah membacakan cerita pendek ini.
Komentar
Posting Komentar