GHEA

Karena setiap luka pasti akan membekas.

***

Ghea duduk di dekat kamar jendalanya. Memandang hujan yang mengguyur. Saat ini, momen yang paling indah untuk Ghea. Mengingat hal dulu adalah suatu hal menjadi kebiasaan dikala hujan. Akan banyak hal yang Ghea ingat tentang masa lalu. Masa yang sudah dilalui, namun sayangnya, sakit bila diingat. Semuanya telah berubah. Entah siapa yang diubah atau berubah, semuanya sudah Ghea rasakan. 

Ghea hanya ingin bebas dari perasaan ini. Tidak terbelenggu lagi dengan hal itu. Memikirkannya saja membuat Ghea merasa sangat amat terluka. Apalagi, kalau hal itu akan terulang lagi. Hari itu. Hari yang Ghea sesali. Bagaimana tidak? Seorang yang ada di sisi Ghea selama ini, tega mengkhianatinya dan parahnya lagi, ia pergi dengan sahabat Ghea. Kedua orang yang saat itu Ghea andalkan pergi dan meninggalkan Ghea dengan luka yang mereka buat. 

Ghea benci orang-orang yang datang dan memberikan harapan manis padanya dan akhirnya semua itu hanya angan-angan saja yang tidak mungkin dan tidak pernah menjadi nyata. Jika saja, Ghea tahu kalau pacarnya dan sahabatnya itu bermain busuk di belakangnya, ia akan pergi dari kehidupan mereka berdua dan tidak akan pernah menganggap mereka berdua sebagai manusia. Karena untuk apa disebut sebagai manusia, kalau perbuatannya tidaklah seperti manusia pada umumnya?

Ghea terus merutuki dirinya sendiri. Menyesal karena telah mempercayai orang yang membuat kepercayaan itu hancur. Ghea benci keadaan dimana ia harus mengingat semuanya itu. Namun sayangnya, hujan yang turun selalu membawa kenangan masa lalu  itu untuk Ghea. Mau tidak mau, Ghea harus mengingat kenangan pelik itu. Kenangan yang terlihat biasa saja bagi orang lain, tapi sangat melukai hati Ghea.

Ghea tidak pernah membenci orang lain. Ghea bahkan ingin menjadikan mereka sebagai seorang sahabat. Tapi, Ghea sadar, sahabat di kehidupannya hanya label saja. Yang datang disaat susah dan pergi disaat senang. Apalah arti kata sahabat kalau menghancurkan hubungan sahabatnya sendiri? Sudahlah. Ghea tidak ingin mempunyai mimpi untuk memiliki sabahat impian. Biarkanlah waktu yang akan membawanya di kehidupan Ghea 

Ghea tersenyum. Senyum yang tidak bisa diartikan. Hati sangat terluka namun, bibir masih dengan senangnya mengembang senyum. Apakah artinya semuanya akan baik-baik saja? Tidak. Tidak semudah itu. Luka yang Ghea alami memang tidak nampak. Namun, benar-benar sakit. Ghea tidak membenci pacarnya dan sahabatnya itu. Tapi, Ghea benci pada dirinya sendiri karena sudah berteman dengan orang-orang busuk seperti mereka.

Ghea sadar akan satu hal. Yang benar-benar datang juga akan benar-benar pergi. Tidak usah berekspektasi jika orang yang ada di dekat kita akan benar-benar ada dan terus menetap. Ghea memeluk lututnya. Dingin yang ia rasakan saat ini, sangat dingin dibandingkan dinginnya hujan yang membasahi daun. Ghea berterima kasih pada waktu yang telah membawanya pada hari ini. Dilepaskan dari orang-orang itu.

Kini, Ghea harus menulis skenarionya lagi. Berharap, skenario dulu tidak terulang lagi. Ghea tetap akan menjadi Ghea yang mencintai semua orang sekalipun mencintai itu menyakitkan bagi dirinya sendiri. Ghea akan menjadikan masa lalu sebagai petunjuk ke depannya. Ghea tidak ingin merasakan luka yang sama lagi. Karena, luka yang membekas akan terus menyakitkan. 




Penulis|20/03/2021

Terima kasih sudah membacakan cerita pendek ini.

Komentar

Postingan Populer