NIEL
Ini cerita Niel.
Cerita pelik karena tak peka.
Saat itu, Niel berharap agar apa yang ia rasakan bisa juga dirasakan oleh Ikeng. Niel tahu, Ikeng adalah sosok seorang perempuan yang sulit dan mungkin tak mau untuk membahas soal cinta. Andai saja, saat itu Niel tahu apa yang seharusnya ia mau. Siang berubah menjadi malam. Masih tentang hal yang sama, namun kali ini sedikit berbeda. Perihal rasa yang tak pernah dibalas. Perihal rindu yang belum dipeluk. Niel merasa dibodohi oleh dirinya sendiri.
Andai saja waktu bisa diputar balik. Niel tidak akan mau menjadi Niel yang seperti ini. Merasakan kisah pelik karena tak peka. Menyakitkan dan sungguh. Andai saja, saat itu Ikeng menjadi orang yang peka. Peka terhadap perasaan Niel pada dirinya. Namun, Niel harus merelakan Ikeng, sosok perempuan yang menjadi idaman telah bersama yang lain. Niel kecewa dengan dirinya yang tidak berani memperjuangkan perasaannya.
Jika Niel memilih, ia lebih memilih untuk tidak pernah mengenal Ikeng selama ia hidup daripada merasakan kisah berujung pelik. Niel sadar jika selama ini, ia hanya menjadi tokoh sementara di cerita hidup Ikeng. Tokoh yang tak sungguh dan tokoh yang akan digantikan oleh tokoh lain. Niel tak ingin menjadi manusia ego yang tidak mau melihat kebahagian Ikeng. Setidaknya, Niel bisa tersenyum saat melihat Ikeng tersenyum ketika tangan kanan Ikeng digenggam oleh pria lain. Senyum yang sebenarnya sebuah luka namun harus untuk dilakukan. Niel tahu kalau cinta tak harus memiliki.
Andai saja, saat itu Ikeng tak melihat Niel yang kehujanan. Mungkin skenario ceritanya tidak akan seperti ini. Niel, jatuh suka pada pandangan pertama. Namun, jatuh pada hati yang tidak tepat. Niel dan Ikeng adalah dua sahabat. Namun, Niel tak punya keberanian untuk mengubah sahabat menjadi sejoli. Apakah itu egois? Niel ingin persahabatan mereka lebih dari sekadar sahabat. Niel ingin menjaga Ikeng selamanya bukan hanya saat Ikeng merasa sendiri. Niel ingin menjadi tempat sandaran untuk Ikeng. Niel ingin melihat Ikeng menua bersamanya.
Tapi, mimpi belum pasti menjadi kenyataan. Mimpi Niel terlalu tinggi dan Niel sadar kalau ia hanya dilabeli sahabat oleh Ikeng, sang pujaan. Niel merasa persahabatan ini membuahkan kisah pelik. Kisah pelik karena tak berani dan kisah pelik karena tak peka. Niel, menutup kisahnya yang berujung pelik. Berharap, besok dan lusa tidak akan merasakan kisah pelik yang sama.
Penulis
Terima kasih sudah membaca cerita pendek ini.
Komentar
Posting Komentar