POHON CEMARA


Aku masih ingat saat aku duduk di bawah pohon itu. Pohon yang sudah menjadi teman saat aku pulang sekolah. Ada begitu banyak kenangan yang terukir di pohon itu. Seulas senyum selalu mengembang kala mengingat itu semua. Aku selalu merasa nyaman dan tenang bila berada di bawah pohon cemaraku. Berimajinasi di alam pikiran tentang dua sejoli yang menjalin kisah asmara. Pohon cemara menjadi teman untuk aku bersandar dan bercerita.

Saat itu, aku masih ingat. Aku pulang terburu-buru dari sekolah karena takut diejek nilai matematikaku jelek oleh teman-teman. Aku malu dan sungguh malu. Aku duduk di bawah pohon itu. Melampiaskan kekesalanku pada pohon itu. Aku menangis dan menceritakan kejadian pelik pada pohon itu. Aku sedikit gila saat itu. Bagaimana tidak? Aku berbicara dengan benda mati. Aku terus duduk di bawah pohon itu dan tanpa aku sadari, gerimis hujan mulai jatuh membasahi debu tanah. Aku segara bangkit dan masuk ke dalam rumah. 

Setiap malam adalah hari yang paling nyaman untukku. Adakalanya, aku ingin menemani pohon cemara yang sendirian di luar merasakan dinginnya malam. Aku terlalu takut jika pohon cemara tak bersamaku lagi. Karena, pohon cemara bagiku adalah teman yang selalu setia untuk mendengar bukan hanya ingin didengar. Aku berdiri di dekat jendela. Menatap pohon cemaraku penuh rindu. Ah, aku terlalu mencintai pohon itu. Aku berjanji dalam hati akan terus menjaga pohonku dan tidak akan menyakitinya.

Besok adalah hariku untuk menebus kesalahan yang aku lakukan hari ini. Aku bertekad untuk tidak malas lagi belajar matematika dan aku berjanji tidak akan menceritakan kepada pohon cemaraku tentang nilai jelek yang kudapatkan, melainkan nilai bagus yang akan kuceritakan padanya. Aku percaya, aku tak sendirian melakukan ini. Ada Dia yang selalu menopang dan memberi semangat. Aku tak sabar lagi, menjemput pagi apalagi siang. Membaca buku sembari bersandar di pohon cemaraku. Tempat sandar yang paling nyaman dan akan selalu ada. Di bawah pohon itulah, aku tahu arti kedamaian tanpa palsu. Aku berharap, aku dan pohon cemaraku akan menjadi kisah yang abadi.

Keesokan paginya...

Aku bangun saat alarmku berdering. Aku sedikit malas bangun pagi jika tak dibantu oleh alarm. Alarm bagiku adalah seorang teman yang selalu membangunkan temannya untuk kembali bangkit dan berjuang lagi. Aku beranjak dari tempat tidur dan melihat pohon cemaraku dari jendela. Hm, ternyata masih aman. Aku segera menyiapkan semua peralatan sekolah untuk ke sekolah. Berharap, hari ini akan baik-baik saja. Aku mengambil tas dan pamit pada Ayah dan Bunda. Tidak lupa pula, aku pamit dengan pohonku. 

Aku tak menyangka, nilai matematikaku bagus. Aku merasa senang dan bangga saat tugas matematikaku memuaskan. Aku tak sabar lagi untuk pulang dan menceritakan apa yang kurasakan pada pohon cemaraku. Pulang sekolah, aku dibuat binggung. Apakah mataku sudah mulai buta? Aku tak melihat pohon cemaraku berdiri. Yang kulihat hanya kayu-kayu yang sudah dipotong kecil-kecil. Aku melihat Ayah. Ayah menatapku dengan senyuman dan mataku tertuju pada pada parang yang dipegang oleh tangan kanan Ayahku. 

Aku tak percaya, kalau teman pendengar paling setiaku pergi. Aku ingin bercerita dengan pohon cemaraku hari ini sambil mendengarkan musik klasik yang menjadi favorite kami berdua. Tak lupa pula, aku akan menceritakan tentang nilai matematikaku yang memuaskan hari ini. Tapi, sayangnya, pohon cemaraku t'lah pergi. Kenapa kata pamit seakan-akan menjadi kata perpisahan yang selamanya? Aku merutuki diriku, saat mengingat kata pamit yang kuucapkan tadi pagi. Maafkan aku pohon cemaraku. Aku tak bisa menjagamu selamanya. Aku hanya akan terus berada di tempat yang sama. Walaupun tempat sandaranku sudah menghilang. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Aku tak bisa marah dengan keadaan dan kuyakin, pohon cemaraku tahu hal itu.


Selamat jalan pohon cemaraku. Maaf t'lah membuatmu menjadi abu di dapurku. Maaf t'lah membuatmu sakit karena di potong oleh tajamnya parang. Aku dan ceritaku akan selalu percaya. Percaya jika yang pergi akan kembali, yang mati akan tumbuh, dan yang sia-sia akan menjadi makna.

Pohon cemara, aku sangat bangga punya teman sebaikmu.



Penulis|04/03/2021

Terima kasih sudah membacakan cerpen ini.

Komentar

Postingan Populer