KENANSIH


Kegagalan adalah awal kesuksesan bagi Kenansih.



Dulu, Kenansih merupakan anak yang paling ambis dan kebanggaan sekolah. Setiap hari ia selalu menyempatkan diri untuk belajar. Ia tidak pernah bosan untuk membuka buku. Kenansih yang akrab dipanggil Kenan itu, mempunyai mimpi untuk masuk ke PTN terfavorite di Indonesia. Ini adalah alasannya menjadi anak yang super ambis. Sebisa mungkin ia akan melakukan apapun untuk masuk ke PTN. 

Kenansih merupakan anak sulung. Harapan kedua orang tuanya ada di pundaknya. Ia juga beruntung bisa memiliki orang tua yang bisa memberikannya dukungan bukan hanya soal materi. 

Setiap hari sepulang sekolah, Kenan selalu pulang  terakhir. Ia selalu pergi ke perpustakaan yang jaraknya tidak cukup jauh dari rumahnya. Ia senang sekali membaca buku tentang fakta-fakta dunia yang mungkin sebagian orang belum mengetahuinya. Ia juga pandai memahami apa yang orang lain rasakan, sehingga tak wajar lagi jika teman-temannya selalu menceritakan apa yang mereka rasakan pada Kenan. Tak hanya itu, Kenan juga sangat senang berimajinasi.

Kenansih bukan seorang ekstrovert yang senang untuk berjalan-jalan bersama-sama temannya. Ia merupakan seorang introvert. Ia baru mengenal introvert saat ia menginjak kelas 11 dulu. Ia bersyukur bisa mengetahui tentang dirinya sendiri. Kenan tidak suka saat ia harus berada di lingkungan yang ramai.  Bukan tidak mau, tapi karena kepribadiannya saja yang kurang nyaman. Karena itulah, Kenan  selalu menyendiri untuk menemukan apa makna hidup bagi dirinya sendiri. Ia suka mengeksplor suatu hal di alam pikirnya.


Suatu hari, ia kesulitan untuk mencari jurusan. Ia sudah berada di kelas 12 semester 2 SMA. Ini adalah masa baginya untuk ekstra belajar agar bisa masuk ke PTN yang ia impikan. Dalam kebinggungannya, ada seorang perempuan yang terkenal pandai berbahasa Inggris di sekolah Kenan. Ia menghampiri Kenan saat Kenan berada di perpustakaan sekolah. Kenan sangat kaget saat itu. Perempuan itu sangat cantik dan bisa dibilang anak sultan. Kenansih tak menyapanya. Bukan berarti Kenan sombong, tapi ia sadar ia bukan siapa-siapa dibandingkan perempuan itu. 

Namun  siapa sangka, berkat perempuan itu Kenan bisa memilih jurusan. Kenan sangat beruntung saat itu dan bersyukur bisa mengenali perempuan itu. Kenan akhirnya memilih jurusan sastra Indonesia.  Ia juga sangat suka dengan dunia sastra. Ia juga banyak menulis novel dan puisi. Ia sangat senang berimajinasi akan sesuatu hal lalu menuangkan hasil imajinasinya dalam bentuk karya tulis.

Kenan memilih Universitas Gajah Mada atau biasa disebut UGM sebagai PTN yang ia impikan. Ia sudah tak sabar lagi untuk berada di kampus tersebut. Ia berharap perjuangannya bisa berhasil. Ia tak pernah absen untuk belajar serta berdoa agar ia bisa diterima di UGM. Namun, sayangnya, ia tidak bisa mewujudkan mimpinya. Kenan benar-benar sedih dan kecewa. Perjuangan yang Kenan lakukan selama ini tak membuahkan hasil. Ia kecewa dengan dirinya sendiri yang terlalu berharap dalam mimpi. Kenan gagal masuk UGM.


Kenan akhirnya masuk disalah satu universitas di  Jakarta. Namun, Kenan tak seambis dulu. Ia masih diselimuti oleh rasa kecewa. Bagi Kenan sendiri, sekali gagal berarti akan gagal. Kalimat itulah yang ada dipikiran Kenan. Kenan juga jarang membaca buku dan bahkan ia sering menghabiskan waktu untuk rebahan. Sepulang dari kampus, Kenan tak sengaja bertemu dengan perempuan yang membantunya untuk mencari jurusan. Mereka saling menceritakan apa yang terjadi di hidup mereka selama menjadi Mahasiswa. Kenan pun berani menceritakan apa yang ia rasakan. Mungkin perempuan itu adalah malaikat bagi Kenan. Ia sangat terharu saat perempuan itu memberikannya nasehat untuk berjuang lagi dan jangan pernah berpikir jika kegagalan akan terus dan selamanya ada.


Siapa sangka, Kenan bisa menjadi penulis terhebat di Indonesia sekarang. Banyak karya-karya yang ia tulis dibaca oleh ribuan orang Indonesia. Ia tak menyangka, kegagalan yang ia alami dulu bisa mendatangkan kesuksesan. Kenan sangat bersyukur karena ia tidak pernah menyerah saat ia gagal karena tidak di terima di PTN favoritenya. Sungguh, Kenan sangat-sangat bersyukur.










Penulis |21/04/2021

Terima kasih sudah membacakan cerita pendek ini.


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer