RARA

Ini kisah Rara,si perempuan yang tetap kuat saat semua orang tak menyukainya.

~

Andai saat itu Rara tetap ada di rumah. Pasti kejadian itu tak akan terjadi. Apalagi, kejadian yang sebenarnya hanya kesalahpahaman. Tapi, semua keluarga Rara telah melabeli Rara sebagai perempuan nakal. Padahal, Rara pergi bersama Leo hanya karena ada hal penting. Hal itu pun hanya menyangkut kepentingan sekolah. Tidak bermaksud untuk melakukan hal-hal tidak baik.

 Hari Senin depan Rara dan Leo akan mengikuti lomba bahasa Inggris dan malam itu mereka berdua mendapat pesan dari guru bahasa Inggris mereka untuk datang ke rumahnya untuk mengambil soal-soal untuk dipelajari. Mau ataupun tidak, mereka berdua harus mengambil soal-soal tersebut agar bisa dipelajari. Tapi, hati Rara berkata lain malam itu. Apakah ia harus pergi? Apalagi jarum jam sudah menunjukan pukul 8 malam. 

Leo pun meminta Rara untuk pergi. Rara binggung dan takut. Tapi, Rara tidak boleh egois. Ia harus tetap pergi bersama Leo. Rara mencari keberadaan orang tuanya ataupun kakaknya. Namun, sayangnya mereka tidak ada. Apa mereka pergi bersama lagi? Sedangkan Rara tidak diajak sama sekali. Sudahlah, toh biasanya juga Rara tidak diajak. Tapi, yang paling penting adalah Rara harus meminta izin kepada orang tuanya. Ia mengambil ponselnya lalu menelpon orang tuanya. Namun, tak diangkat. Rara sudah menghubungi keluarganya dan keluarganya sama sekali tak peduli.

 Rara tersenyum pedih saat melihat foto di Instagram kakaknya. Ya, foto bersama dengan keluarga besar di salah satu restoran termahal di Bali. Andai saja, ia bisa ada di sana. Betapa bahagianya hati Rara. Namun, hal itu tak akan mungkin untuk Rara.

Leo mengirim pesan untuk Rara. Leo sudah di depan rumah Rara. Rara tak sempat mengirim pesan untuk orang tuanya untuk meminta izin. Rara tersenyum pada Leo. Laki-laki yang selalu ada untuk Rara. Pundak yang menjadi tempat bersandar bagi Rara saat ia sedang sedih. Rara bersyukur, ia masih memiliki Leo yang selalu ada untuknya. Mereka berdua pun pergi ke rumah guru mereka untuk mengambil soal. 

Puji Tuhan, mereka tiba dengan selamat. Rara dan Leo disuguhi oleh teh hangat. Moment seperti ini yang Rara inginkan. Berkumpul dan merasakan arti kebahagian yang sesungguhnya. Andai saja, keluarga Rara seperti ini. Mungkin, Rara akan menjadi perempuan yang begitu beruntung.

Rara dan Leo pun pulang setelah guru mereka memberikan soal-soal. Rara sedikit terkejut saat melihat jam di ponselnya sudah menunjukan pukul 10 malam. Ia pun meminta Leo untuk cepat-cepat mengendarai motornya. Rara benar-benar takut sekarang.  Rara takut jika orang tuanya melihatnya pulang malam. Apalagi dengan laki-laki. Andai saja nanti orang tuanya bisa percaya dengan Rara saat Rara menjelaskan yang sebenarnya. Amin untuk segala hal baik.

Rara turun dari motor Leo. Rara melihat mobil. Nampaknya, keluarga itu sudah pulang. Baik Rara maupun Leo kaget saat Ayah Rara keluar. Leo turun dari motornya untuk menjelaskan sebenarnya. Jujur, Leo tahu apa yang terjadi dengan Rara belakangan ini. Leo tidak ingin membuat Ayah Rara salah paham apalagi jika ia memarahi Rara. Leo sangat takut jika Rara harus merasakan luka yang sangat perih lagi.

 Saat Leo ingin menyalimi Ayah Rara, Ayah Rara langsung menyuruh Rara masuk dan juga menyuruh Leo pulang. Tak ada penolakan, Leo dan Rara menuruti. Lagi-lagi, kata-kata yang tidak pantas keluar dari mulut keluarga Rara untuk Rara. Perempuan nakal, jalang, penggoda, munafik, dan binatang. Ya, begitulah kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Jika saja, mereka ingin mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi dari mulut Rara, Rara pasti akan sangat bahagia. Namun, Ayah, Ibu, dan Kakak Rara tidak mempercayainya. Mereka mengira, Rara melakukan hal-hal yang tidak-tidak dengan Leo. Padahal, jelas-jelas mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Rara dihukum untuk tidur di dapur tanpa selimut dan bantal. Bahkan tadi, Kakak Rara memukuli Rara menggunakan sapu. Bukan hanya itu, Ibu Rara juga menyiraminya dengan air. Alhasil, Rara sangat merasa dingin apalagi tidur tanpa selimut. 

Tapi, Rara tetap bersyukur. Ia bersyukur sudah menjadi perempuan yang tetap kuat di saat mereka menjauhinya. Tetap sabar disaat ia dihina. Mungkin, itu semua adalah makanan Rara setiap hari. Andai saja, Rara dilahirkan di keluarga yang selalu memberikannya kehangatan. Andai saja, Rara bisa merasakan kasih sayang dari orang tuanya seperti kasih sayang yang orang tuanya berikan pada kakaknya. Andai saja, Rara bisa merasakan pelukan dari keluargnya. Namun, hal itu mungkin tak akan pernah lagi ia rasakan.

 Sejak Rara tak sengaja mendorong kakaknya di got, sejak saat itu pula Rara tak pernah dianggap sebagai salah satu bagian dari keluarga mereka. Air mata terus membasahi pipi Rara. Rara ingin sekali memeluk orang tuanya saat ini. Setidaknya, dingin yang ia rasakan bisa menjadi hangat saat ia berada di dalam pelukan orang tuanya. Kalaupun kenyataannya tidak bisa, Rara ingin untuk merasakan pelukan itu walau dalam mimpi.  

~

Hari ini Rara merayakan ulang tahunnya. Ia tumbuh menjadi dewasa. Sekalipun, tumbuh dewasa karena terpaksa karena kejamnya keadaan. Ia merayakan ulang tahunnya bersama dengan Leo. Tak ada satu pun keluarga Rara yang berada di dekatnya. Rara dan Leo duduk di taman. Tempat favorite mereka berdua. Jika saja keluarga Rara ada di sini dan mengucapkan selamat ulang tahun untuknya, Rara pasti akan melompat kegirangan. Tapi, sudahlah. Rara sudah tidak ingin lagi berandai. Rara hanya ingin merasakan kebahagian yang sesungguhnya dan ketenangan yang seutuhnya.

Rara masih ingat luka yang ia rasakan dulu saat SMA. Lomba bahasa Inggris yang ia nantikan tidak bisa ia ikuti. Semuanya itu karena Kakak nya Rara. Kakaknya tidak ingin melihat Rara menjadi murid yang berprestasi. Alhasil, segala cara ia lakukan agar Rara tidak bisa mengikuti lomba itu.

 Namun, Rara tak pernah memarahi Kakaknya. Rara rela melakukan apa saja, asalkan Kakaknya bisa menganggap Rara sebagai adiknya. Itu sangat-sangat cukup untuk Rara. Namun, Rara sudah tidak pernah lagi melihat wajah-wajah keluarganya. Sekarang ini saja, Rara tidak bisa melihat Leo. Rara sudah tidak bisa melihat apa yang terjadi.  Kakaknya Rara sengaja menjatuhkan kaca di dekat Rara. Alhasil, Rara tidak bisa melihat lagi.

Rara sangat-sangat terluka. Apakah ia dilahirkan untuk merasakan kepedihan ini? Tapi, Rara tetap bersyukur. Setidaknya, ia bisa berada di hari ini setelah melewati masa lalu yang suram.




Penulis 

Terima kasih sudah membacakan cerita pendek ini.


Komentar

Postingan Populer