SI KUTU BUKU
Karena sesungguhnya, rejeki sudah ada untuk kita semua. Kita hanya berusaha untuk memilikinya.
***
Hai, ini kisahku. Kisah yang membuat aku sadar jika kita sudah selayaknya bahagia dan kebahagiaan selalu diwarnai dengan duka. Namun, percayalah. Setelah luka akan ada kebahagiaan. Seperti pelangi setelah hujan. Untukmu, aku persembahkan kisahku.
Teman-temanku, memanggil aku dengan sebutan si kutu buku. Bagiku, hal itu tak masalah. Toh, aku pantas dilabeli demikian. Namun, hari demi hari, aku merasa sedih saat teman-temanku tak ada yang mengajakku untuk pergi ke kantin bersama seperti biasanya. Kata mereka, aku tak pantas lagi bersama dengan mereka.
Parahnya lagi, mereka tidak mau berteman denganku gara-gara aku hanya membaca buku terus selama di kelas. Apakah itu salah? Hm, sudahlah. Aku tak ingin memikirkan omongan-omongan mereka. Tapi, yang harus aku lakukan adalah bagaimana aku bisa menyikapi perkataan dan sikap mereka tanpa harus membalas. Senyum manis adalah caraku untuk membalas apa yang mereka katakan padaku.
Waktu itu, saat aku duduk sendiri di kelas sembari membaca buku, aku dikejutkan oleh teman-teman sekelasku. Bagaimana tidak? Aku disirami air mineral oleh mereka. Baju dan bukuku basah seketika dan air mataku pun jatuh membasahi pipiku.
Mungkin singkatnya, aku di bully saat itu. Aku binggung harus bagaimana lagi menyikapi mereka. Pernah suatu ketika, aku melaporkan kepada OSIS atas tindakan mereka itu. Namun, sayangnya belum beberapa hari sesudah aku melaporkan mereka pada OSIS, mereka tidak ada kapoknya. Buku yang sengaja aku simpan di laci mejaku, menjadi korbannya. Mereka merobek dan bahkan membakar buku tersebut.
Hal yang membuat aku sedih tentang buku itu adalah saat aku mengingat Ayah membeli buku itu untukku. Ayah sengaja membeli buku itu untukku. Ayah bilang, suatu hari nanti aku akan menjadi seorang penulis. Maka, aku harus banyak-banyak membaca. Buku itu menceritakan perjuangan seorang gadis desa yang sukses di luar negri. Bahkan, ia menjadi dosen di salah satu universitas ternama di Australia. Sungguh, luar biasa sekali.
Namun, buku itu hanya meninggalkan abu untukku. Aku melihat sebagian halaman buku itu di tempat sampah. Buku sejuta perjuangan telah hancur. Ayah, maafkan anakmu ini yang tidak bisa menjaga buku pemberianmu dengan baik. Aku perlahan merasa kurang motivasi saat itu. Apalagi, buku kesukaanku telah pergi dan aku pun sendiri. Aku sempat berpikir saat itu, apa aku harus tidur di perpustakaan sekolah agar aku bisa semangat lagi untuk membaca buku? Tapi, aku urungkan niatku itu. Aku pikir, aku akan meminjamkan buku-buku dari perpustaakan lalu aku baca di rumah.
Suasana yang membuat aku nyaman adalah ketika aku membaca buku ketika hujan sembari menikmati kopi hangat. Kenangan masa kecil kembali aku bayangkan. Sejenak, aku istirahat. Sejenak, aku diam dan sejenak aku berpikir, apakah aku akan menjadi seorang penulis seperti yang dikatakan Ayah padaku? Mimpi yang indah untuk diwujudkan, bukan?
Keadaan belum berubah. Nasibku masih sama. Dilabeli kutu buku dengan nuansa negatif membuat aku sedih. Sungguh. Bagaimana tidak? Teman-temanku berbicara tanpa memikirkan perasaanku. Waktu itu, mereka bilang kalau aku hanyalah anak petani yang tidak pantas meraih kesuksesan dan hanya menjadi babu buku.
Ada juga yang mengatakan kalau aku tidak akan bisa bersosialisasi dengan orang banyak, karena aku adalah si kutu buku. Teman di belakang teman dudukku pun juga mengatakan kalau aku adalah manusia yang kurang kerjaan yang setiap hari terus membaca buku tanpa membuahkan hasil dan masih banyak lagi yang mereka katakan padaku.
Aku terdiam saat mendengarkan omongan-omongan dari mereka. Aku sempat berhenti membaca buku dua hari. Tapi, jujur, aku tidak tahan untuk tidak membaca buku. Maka, dari semua kejadian pelikku aku tuangkan dalam buku kecil yang aku bawa dimanapun aku melangkah. Mungkin, buku kecil itu adalah teman yang setia mendengarkan apa yang aku rasakan.
Buku itu aku namai dengan nama Kiki. Setidaknya, aku juga punya teman seperti teman-temanku di sekolah. Kehidupanku mulai berubah saat aku menuangkan apa yang aku pikirkan dalam sebuah buku batik. Teman kedua setelah Kiki. Alhasil, aku tidak peduli lagi dengan omongan-omongan negatif dari teman-temanku. Aku mulai tertarik dengan dunia sastra. Aku juga memiliki beberapa teman yang sefrekuensi denganku. Aku sungguh bahagia.
Karena sesungguhnya, kebahagiaan itu akan datang selama kita mau berusaha. Bukan hanya diam di tempat tapi melangkah untuk melihat betapa maknanya hidup ini dan kita pasti akan menemukan kebahagiaan itu.
Tahun lalu setelah lulus SMA, aku dipercayakan oleh orang tuaku untuk melanjutkan jenjang pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Bandung dan di Bandung lah aku mulai merasakan arti pertemanan yang sesungguhnya. Aku berjumpa dengan banyak orang yang memberikan aku arti hidup dan bagaimana untuk menghidupi hidup. Semuanya itu, aku tuangkan di bukuku. Suatu ketika, aku berjalan bersama temanku. Kami menceritakan begitu banyak hal. Mulai dari masa kecil, masa SMA, arti hidup, cita-cita, dan masih banyak lagi. Aku mungkin menjadi seorang perempuan yang sangat beruntung mempunyai teman sebaik dia.
Hal-hal yang kami lakukan, aku tuangkan di dalam buku batik yang aku beli. Ini yang aku maksud buku keduaku. Hm, sederhana namun membuat aku sadar bahwa hidup ini sungguh saat berarti . Waktu itu, aku tergiur dengan ide dari temanku. Katanya, tulisan yang aku tulis itu sangat bagus dan layak untuk diterbitkan. Aku sangat senang dengan ucapannya waktu itu. Kalimat pujian baru aku dengar sekarang. Sedangkan dulu, tak pernah kudengar. Aku dan temanku adalah perjuangan dan hari ini aku adalah buktinya.
Aku sangat berterima kasih pada temanku waktu itu. Berkat idenya itu, aku bisa menjadi seorang penulis novel. Waktu itu, saat temanku memberitahukan idenya padaku, besoknya aku langsung membawa tulisanku ke penerbit dan Puji Tuhan tulisanku diterima oleh penerbit dan yang membuat aku bahagia adalah ketika orang tuaku tersenyum bangga padaku saat mereka tahu jika anaknya menjadi seorang penulis. Aku juga tak menyangka, jika seorang anak yang dilabeli kutu buku bisa menjadi seorang penulis. Karya-karyaku menjadi motivasi bagi orang lain untuk selalu mengejar mimpinya dan untuk selalu mengejar rejekinya. Aku bisa dan aku bangga. Dari pengalaman yang sudah aku lalui, aku menemui hal yang selayaknya aku dapatkan.
Aku percaya dengan perjuangan dari gadis desa yang menjadi dosen di Australia. Buku yang telah menjadi abu bagiku karena ulah teman-temanku tapi pengalaman dari buku tersebut sudah aku implementasikan dalam kehidupanku sehari-hari. Aku percaya, perjuangan akan membuahkah hasil dan aku percaya, rejeki sudah ada untuk kita semua. Kita hanya berjuang untuk memilikinya.
Itulah kisahku. Kisah si kutu buku yang sudah memiliki rejekinya. Pengalaman pelik di masa lalu telah memberikanku banyak hal dan seorang penulis terhebat di kota Bandung yang dilabeli kutu buku telah menjadi orang yang memotivasi banyak orang lewat tulisannya.
Jangan menyerah selagi masih ada banyak kesempatan.
Penulis |03/04/2021
Terima kasih sudah membacakan cerita pendek ini.
Komentar
Posting Komentar