HELEN


Jika air mataku adalah air mata kesedihan, lantas mengapa kalian membuat aku terluka?

***


Helen terdiam sesaat. Ia merenung setelah mendengar cerita tentang dirinya dari Pamannya. Sekarang, Helen sadar kenapa ia tidak dianggap sepenuhnya di keluarganya sendiri. Satu-satunya orang yang baik dengan Helen adalah Pamannya. Helen benar-benar berutang budi dengan Pamannya itu.  Paman Helen yang bernama Edo merawat Helen sejak bayi. Keluarga Helen sendiri tidak sudi merawat Helen dan bahkan, tidak mengakui Helen. Namun hari ini, Helen tahu semua alasannya. Hati Helen benar-benar hancur saat mengetahui itu semua.


***


Helen adalah anak perempuan dari keluarga yang terpandang. Namun, tidak dengan kasih sayang. Helen adalah buktinya. Jika seorang Ibu sangat mengharapkan bayinya lahir dengan selamat, tidak untuk Ibu Helen sendiri. Ibu Helen tidak mengharapkan Helen lahir dengan selamat. Helen ada karena hubungan yang tidak pantas. Ayah Helen pergi  dan sayangnya, keluarga mereka juga tidak menyukai Helen kecuali Edo, Paman Helen, karena suatu stigma yang menganggap bahwa anak perempuan tidak diharapkan untuk terlahir sebagai anak pertama karena dianggap lemah atau tidak pandai untuk memimpin di keluarga itu. Helen sendiri sudah tahu itu semua dari Pamannya. 

Setiap malam, Helen selalu berdoa agar ia bisa dipeluk oleh Ibunya sendiri. Helen sebenarnya tahu rasanya dipeluk oleh orang lain, karena setiap saat, Paman Helen selalu memeluk Helen saat Helen sedang rapuh. Tapi, Helen ingin dipeluk oleh Ibu kandungnya sendiri walaupun hanya sesaat. Bagi Helen, Ibunya adalah perempuan yang tangguh. Namun, bagi Ibu Helen sendiri, Helen adalah pembawa sial untuk hidupnya.

Direndahkan oleh keluarga sendiri sudah barang biasa bagi Helen. Namun, seringkali Paman Helen sangat terluka hatinya atas perilaku dari keluarga besar pada Helen. Ingin sekali Edo membawa Helen pergi dari keluarga itu agar hati Helen sedikit pulih. Namun, Helen sendiri menolak lantaran ingin melihat sang Ibu tersenyum. 

Bohong jika Helen baik-baik saja setelah mengetahui apa yang sebenarnya dan mendapatkan perilaku sekaligus omongan yang sangat tidak pantas dari keluarga itu. Helen sangat-sangat rapuh. Pernah suatu ketika, Helen melihat seorang anak yang mendapat prestasi akademis berlari menuju orang tuanya lalu memeluk dengan sangat erat. Helen jelas-jelas melihat sang anak mengeluarkan air mata bahagia karena pencapaiannya. Helen terdiam sesaat. Ia ingin seperti itu. Helen ingin mengeluarkan air mata kebahagiaan bukan air mata kesedihan. Namun sayangnya, nasib Helen tidak seindah dengan nasib anak itu. 

Air mata Helen adalah air mata yang melambangkan luka yang tidak bisa diobatkan oleh siapapun, selain Ibu Helen sendiri.

Helen ingin melihat wajah Ayahnya. Harapan Helen saat ia melihat Ayahnya adalah ia ingin merasakan kasih sayang dari sosok Ayah. Jika Helen tidak bisa merasakan kasih sayang dari Ibunya sendiri, apakah ia juga tidak akan mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya karena ia terlahir dari sebuah kesalahan?

Bagi Helen, stigma dari keluarganya sangat tidak masuk akal. Apa Helen benar-benar tidak diharapkan hanya karena stigma itu? Ini adalah PR Helen untuk mengubah stigma itu. Helen harus mengubah stigma yang kolot itu agar ia bisa merasakan keadilan bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk generasi-generasi yang akan datang di keluarga itu.

Helen ingin mengubah air mata ini menjadi air mata kebahagiaan, jika kesempatan itu masih ada.




Penulis|31/05/2021



Terima kasih sudah membacakan cerita ini. 


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer