JEA


Bagi Jea, orang yang datang adalah orang yang hanya membawa luka tanpa tahu bagaimana cara mengobati.

~

Ini adalah kisah Jea. Kisah  dimana Jea mulai merasakan apa yang orang lain rasakan. Jujur, Jea juga sangat mengharapkan apa yang ia harapkan selama ini benar-benar datang. Jea hanya ingin menjadi seperti teman-temannya yang kapanpun bisa bersama pujaan hati.  Namun, merasakannya saja tidak mungkin bagi Jea, apalagi menjadi apa yang ia harapkan.

~

Hari itu, adalah hari ulang tahun Jea yang ke tujuh belas. Jea merayakan ulang tahunnya sendiri tanpa ada ucapan selamat dari orang lain. Bagi Jea, semua orang yang ada di sekitarnya hanya orang-orang yang dilabeli sebagai manusia saja. Bukankah manusia itu bisa berinteraksi satu sama lain? Kalaupun ia, namun bagi Jea, ia tidak pernah merasakannya. Hidup sendiri adalah hal yang sudah Jea rasakan sejak lama.

Jea tidak pernah tahu bagaimana rasanya disayang, dipeluk, dan dicintai oleh orang-orang terdekatnya. Jika Jea tahu seperti ini di dunia, ia mungkin tidak akan ingin berada di sini. Rumah megah tidaklah berarti bagi Jea. Rumah yang sudah menjadi tempat berteduh malah menjadi rumah seperti kapal tenggalam. Bohong kalau Jea tidak pernah mendengarkan keributan orang tuanya. Setiap hari ada saja masalah yang Jea dengar.  Kenapa hal kecil selalu diperbesarkan? Jea sangat rapuh jika kalian berpikir ia sangat bahagia. Kasih sayang dari kedua orang tuanya hanyalah soal materi bukan ketulusan. 

Pada hari ulang tahunnya, Jea hanya ingin menjadi manusia yang tenang. Jea hanya ingin tidur dengan tenang dan bangun dengan rasa syukur. Namun, bagi Jea hal itu tidak akan ada. Jea bukan manusia yang membenci jika permohonannya tidak dikabulkan. Tapi, Jea benci dengan dirinya sendiri jika harus menyerah.

 Jika saja hari bisa berputar ulang, Jea akan sangat bahagia. Namun, apakah bisa? Masa lalu Jea saja adalah tentang luka, apa Jea sanggup mengulangnya? Jea hanya ingin menjadi manusia yang bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Bukan soal uang ataupun tahta. Jea hanya ingin merasakan apa yang selama ini ia dengar. Kata yang selama ini ia harapkan bisa terjadi. Dicintai. Ya, Jea ingin itu.

Tepat jam dua belas malam, usia Jea sudah menginjak tujuh belas tahun. Jea memeluk dirinya sendiri, mengucap selamat ulang tahun untuk dirinya sendiri, dan berdoa agar apa yang ia harapkan bisa ia rasakan.

~

Jea berjalan bersama sahabatnya, Galih. Galih adalah sosok sahabat yang tahu apa yang Jea rasakan. Bahkan, hal yang Jea tidak tahu tentang dirinya sendiri bisa Galih tahu. Aneh, bukan?


Persahabatan mereka bisa dibilang cukup lama. Semenjak Ibu Jea pergi dari rumah saat itu, Galih adalah sosok yang Jea percaya untuk menceritakan keluh kesahnya. Jika saja Jea bisa menjadi seperti Galih yang hidup sederhana tapi selalu bisa merasakan kenyamanan, mungkin Jea akan sangat-sangat beruntung. Namun, Jea tidak akan bisa menjadi Galih agar bisa merasakan kenyamanan. Jea juga tahu kalau kenyamanan itu bukan soal harta. Jika demikian, apa gunanya harta yang Jea punya selama ini?

Persahabatan yang Jea dan Galih jalankan, mungkin bisa dibilang friendzone. Jea ingin lebih dari sekadar sahabat. Jea memang egois, tapi jujur, Jea juga ingin merasakan apa  yang namanya dicintai. 

Galih memang selama ini sudah menganggap Jea sebagai adiknya sendiri. Galih juga selalu bersikap seolah dia adalah Kakak bagi Jea. Namun, Jea ingin lebih. Jea ingin menjadi kekasih Galih. Jea tidak peduli jika teman-temannya di sekolah tidak ingin berteman dengannya. Ia sudah tahu apa alasan mereka sehingga mereka tidak ingin menganggapnya sebagai teman. Karena, Jea tidak punya kekasih. Jujur, sangat-sangat aneh saat Jea mengetahui alasannya. Mungkin karena itu, Jea ingin menjalin hubungan dengan Galih. Toh, Jea juga sangat-sangat mencintai Galih. Mecintai sudah Jea rasakan dan sekarang, Jea ingin dicintai. Namun, apakah Galih ingin menjalin kisah asmara dengannya?

~

Jea memanggil Galih yang sedang berbincang dengan seorang perempuan. Jea memanggil Galih bukan karena ada keperluan. Namun, Jea cemburu jika Galih dekat dengan perempuan lain. Apakah Galih tahu akan hal itu? Bukankah Galih tahu semua hal tentang Jea?  Galih sudah tahu semuanya sejak lama. 

Galih suka mempelajari karakter manusia secara otodidak. Mungkin, itu sebabnya Galih tahu jika selama ini Jea jatuh hati dengannya. Namun, kenapa Galih seolah-olah tidak tahu akan hal itu? Apakah Galih sengaja bersikap pura-pura tidak tahu?

Keadaan seketika hening, saat Jea memberanikan dirinya untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Galih. Jujur, Galih tak menyangka jika Jea ingin lebih dari sekadar teman. Jea tidak ingin membuang kesempatan, ia lantas menuntut Galih untuk membalas perasaannya. Jea sudah tahu sejak awal jika ia adalah manusia yang egois. Namun, Jea tidak peduli tentang hal itu. Jea hanya ingin dicintai sebagaimana yang ia lihat selama ini namun tidak pernah ia rasakan.

Namun, lagi-lagi harapan yang Jea harapkan tidak bisa ia rasakan. Apa yang orang lain rasakan mungkin tidak akan bisa Jea rasakan. Jea benar-benar terluka saat Galih hanya menganggapnya sahabat. Jika Jea ingin lebih dari sahabat, Galih bisa menjadi Kakaknya. Toh, selama ini Galih sudah memberikannya. Penolakan Galih sangat memperburuk keadaan Jea. Bagaimana tidak? Galih akan pindah ke Bandung besok karena Ayahnya harus pindah ke kantor yang sudah ia bangun sejak lama. Jea bisa menerima penolakan dari Galih, tapi Jea tidak ingin Galih pergi. Jea akan membuang perasaannya untuk Galih asalkan Galih tidak pergi.

 Namun, Jea tidak punya kuasa. Ia harus merasakan  apa yang ia rasakan dulu, ditinggal oleh Ibunya.  Apa Jea ditakdirkan untuk merasakan luka? Jujur, Jea sudah bosan dengan apa yang ia rasakan. Jea bukan manusia yang selalu ingin merasakan  arti luka. Jea, hanya ingin dicintai. Ibu dan Ayah Jea saja belum sepenuhnya memberikan rasa cinta itu dan Jea juga tidak akan pernah merasakan cinta.  Jea benar-benar terluka.

~

Bagi Jea, orang yang datang hanya membawakan luka yang tidak tahu cara mengobatinya. Galih sudah meninggalkannya dan bahkan Galih juga memiliki pujaan hati di kota Bandung. Kenapa yang datang seolah hanya sementara di hidup Jea? Seolah Jea bukanlah manusia yang berarti sehingga luka pantas Jea rasakan. Seolah Jea adalah manusia yang pantas bila ditinggalkan. Jea adalah tempat persinggahan bagi orang-orang yang ada di hidupnya dan Jea tidak akan pernah merasakan apa yang orang lain rasakan. Senyum Jea adalah senyum yang melambangkan arti luka yang tidak tahu kapan bisa sembuh.



Penulis| 01/05/2021

Terima kasih sudah membacakan cerita pendek ini.






Komentar

Postingan Populer