SAHABATKU GITA

 

Dia Gita, sahabatku yang sudah beda alam denganku



***

Dia adalah sahabat yang selalu memberi arti sahabat yang sesungguhnya. Selalu menjadi tempat untuk aku bersandar. Dia bukan sekadar sahabat yang mampu membuat aku senang, tapi dia juga mengajarkan aku untuk bisa menerima keadaan. Dulu, dia datang padaku saat aku kehilangan arah. Awalnya aku tidak peduli dengannya dan bahkan aku menghindar karena dia terlalu menasihatiku untuk tetap melangkah maju. Namun, dia tetap datang kepadaku dan selalu mendengarkan keluh-kesahku. 

Dia tidak pernah memotong pembicaraanku saat aku bercerita. Bahkan, dia selalu memberikan aku ruang untuk selalu berbagi cerita baik suka maupun duka. Dia tipe sahabat yang setia mendengarkan apa yang aku ingin bicarakan padanya.

Pernah suatu ketika, aku menangis karena aku dihukum oleh guruku gara-gara tidak memakai dasi. Aku datang padanya saat sudah pulang sekolah. Aku mengadu padanya seperti seperti anak kecil yang mengadu karena kehilangan permen pada orang tuanya. Aku menangis di pelukannya. Dia mengelus lembut kepalaku dan mendengarkan ocehan-ocehan dari mulutku. Dia tidak pernah marah jika aku seperti anak kecil yang selalu menangis. Bahkan, setiap kali aku sedih, dia selalu mengatakan kepadaku untuk menangis. Dia juga selalu mengatakan kepadaku bahwa menangis adalah sebuah obat untuk sembuh. Dia adalah tipe sahabat yang bisa menasihati tanpa harus melukai hatiku.

Dia selalu mengajarkan aku tentang hal-hal sederhana tapi bermakna. Dia seakan membawa aku ke dunia lain dan melihat betapa pentingnya untuk selalu peduli, menolong, dan jujur. Dia mendapatkan semua itu karena pengalaman. Aku mengajarkan padanya tentang pelajaran yang aku dapat dari sekolah. Dia tertawa, dia tersenyum, dia memelukku dengan tulus. Dia bisa bahagia tanpa ada perasaan malu karena tidak bisa bersekolah seperti aku. Dia tetap bisa mengerti apa yang aku ajarkan karena dia punya kemauan untuk belajar. Aku salut padanya. Dia bisa bahagia karena hal-hal sederhana. 

Aku pernah bertanya padanya apakah dia merasa sedih karena tidak bersekolah? Dia tersenyum penuh arti padaku dan mengatakan jika ia sangat sedih karena dia manusia yang wajar untuk bersedih. Aku terdiam sesaat dan merenungi apa yang ia katakan padaku. Aku melihatnya dan mengatakan padanya jika dia tipe sahabat yang tidak membohongi perasaannya sendiri. Dia tidak ingin berpura-pura bahagia, saat hatinya sedang sedih. Dia tipe sahabat yang selalu jujur dan bisa menerima keadaan.

Hingga suatu hari, aku datang padanya. Dia tiba-tiba memelukku dengan sangat erat lalu mencium keningku dengan singkat. Aku heran padanya dan perasaanku pun menjadi tidak enak. Aku melihat matanya. Aku bisa melihat ada kerinduan di sana. Dia mengatakan padaku untuk selalu mencintai diri sendiri tanpa ada kata henti. Dia mengatakan kepadaku untuk tetap melangkah maju, dia mengatakan padaku untuk bisa menerima keadaan, dan dia mengatakan padaku juga untuk selalu melakukan hal-hal yang sederhana namun penuh arti dan bermakna. Aku menatapnya dalam. ia memelukku lagi seakan ini adalah pelukan yang terakhir kalinya. Aku membalas pelukannya dengan sangat erat. Aku sungguh nyaman berada di dekatnya dan aku bisa mendengarkan hembusan nafas yang sangat panjang dan pelukannya terlepas dari tubuhku. Aku melihatnya dan dia.....

Tidak ada lagi dia. Dia yang mengajarkanku tentang banyak hal sudah berada di alam beda denganku. Aku kehilangan sosok yang bisa mendengarkan apa pun yang keluar dari mulutku dengan setia. Aku kehilangan tempat untuk menjadi sandaraanku. Aku kehilangan sahabat yang tidak akan bisa aku lihat lagi. Aku kehilangan dia. Selamanya.

Apa aku harus ikut dengannya? Tidak! Dia sudah mengajarkan padaku untuk bisa menerima keadaan. Dia pergi dengan harapan aku bisa bangkit dan melangkah maju. Dia pergi dengan harapan aku bisa melakukan hal-hal yang sederhana namun memiliki arti dan bermakna. Dia pergi dengan meninggalkan banyak kenangan manis padaku.


Gita, aku sudah bisa menerima keadaan bahwa kau sudah pergi untuk selamanya.


Selamat jalan sahabatku.









Penulis |23/07/2021



Terima kasih sudah membacakan cerita ini.





Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer