BODY SHAMING


Ini bukan opini, tapi ini adalah cerita pendek yang berjudul body shaming. Jika ada kata-kata yang kurang pantas dalam cerita ini ataupun tindakannya, harap jangan ditiru. Tirulah hal-hal baik yang ada di cerita ini. Jadilah pembaca yang bijak untuk menghargai arti sebuah tulisan.

***


"Cewek gemuk," panggil Kei. Cewek yang mengikuti standar kecantikan itu berjalan menghampiri Jingga.

"Apa?" Tanya Hingga lembut.

"Kenapa kamu mau jadi pacar Biru?" Tanya Kei tiba-tiba. "Kamu yang paksa Biru kan biar suka sama kamu?"

"Aku nggak paksa Biru biar suka sama aku," jawab Jingga jujur.

Kei menatap sinis pada Jingga. Seakan omongan Jingga barusan hanyalah akalnya saja.

"Bohong! Mana mungkin Biru mau sama cewek seperti kamu. Gemuk, jerawatan, pendek, bau juga," ujar Kei tega.

Jingga tidak menjawab celaan dari Kei. Toh, apa yang Kei katakan tadi adalah makanannya setiap hari. Diejek karena tidak sesuai dengan versi kecantikan, direndahkan karena tidak mengikuti standar kecantikan yang ada, dan bahkan teman-teman Kei tega mencoret-coret baju seragam Jingga menggunakan spidol warna hitam yang bertulis "Cewek gemuk yang nggak cantik".


Pernah suatu ketika, Jingga memberanikan dirinya untuk melaporkan tindakan yang Kei dan teman-temannya lakukan padanya kepada guru di sekolahnya.

Namun, sayangnya, gurunya tidak mempercayai omongan dari mulut Jingga. Yang berpenampilan menarik mudah untuk dipercaya, itulah alasan mengapa guru itu tidak mempercayai Jingga. Karena menurutnya, Jingga tidak tergolong siswi yang berpenampilan menarik. Miris memang, tapi itulah kenyataan yang Jingga hadapi.

Jingga tidak punya waktu untuk berdebat dengan Kei. Jingga bukanlah tipe orang yang pasrah dengan apa yang orang katakan padanya, masalahnya sekarang ia harus membuat puisi untuk ditempelkan di Mading sekolah.


"Kenapa kamu nggak jawab?" Tanya Kei.

"Buat apa aku jawab kalau omongan adalah luka," ujar Jingga.

"Sok puitis banget! Lebih baik Lo diet sana, biar badan kamu nggak kaya gajah," ujar Kei. "Jadi cewek itu jangan gemukan, nanti nggak laku."

"Nggak cantik juga," tambah Kei.

Jingga menghela nafas panjang. Ia mendekat pada Kei. Jingga memutuskan untuk menunda membuat puisi. Ia ingin menjawab omongan Kei sekarang.

"Aku bukan barang. Aku juga nggak akan peduli kalau kamu bilang aku gemuk. Percuma cantik kalau hati nggak cantik juga," ujar  Jingga membuat seseorang yang menatapnya sedari tadi tersenyum bangga.

"Zaman sekarang, cantik fisik saja nggak cukup. Perlu kepintaran dan keberanian di zaman ini," ujar Jingga. Kali ini ia bisa mengeluarkan unek-uneknya.

"Oh ya? Emang kamu yang gemuk ini masih bisa dipake zaman sekarang?" Tanya Kei.

Jingga menatap tak percaya pada Kei. Selama ini, Jingga percaya jika sesama perempuan pasti akan selalu mendukung satu sama lain, tapi kepercayaan itu perlahan memudar. 

Jingga tersenyum lalu berkata.

"Selama ini aku mau kita jadi teman yang baik Kei, tapi ternyata dekat sama kamu saja itu sama halnya aku cari luka."

"Siapa juga yang mau jadi teman kamu. Cewek gemuk seperti kamu, nggak cocok masuk golongan kami," ujar Kei.

Lagi dan lagi, Jingga menghela nafas panjang. Saat Jingga ingin mengatakan sesuatu, Biru pacarnya datang menghampirinya dan Kei.

"Kalau kamu cantik karena fisik, pacar aku cantik karena hatinya," ujar Biru.

Jingga tersenyum mendengarnya. 

"Kamu masih cantik di mata orang yang tepat," ujar Biru pada Jingga.

Kei yang melihat itu jadi marah. Ia lalu berkata.

"Kamu mau aja sama cewek kaya gini. Tipe kamu rendah banget Bi."

"Daripada kamu? Suka banget ngebody shaming orang. Kamu pikir perbuatan kamu itu nggak dosa? Dosa banget Kei. Sekarang aku tanya, apa yang kamu dapatkan setelah kamu ngebody shaming orang lain? Ingat! Hidup kita ini hanya satu kali. Kita bakal jadi debu juga kalau sudah waktunya," ujar Biru.

"Maaf ya Kei, aku harus jujur. Aku jijik kalau lihat kamu ngebody shaming orang. Perbuatan kamu itu sama halnya kamu merendahkan diri kamu sendiri," tambah Biru.

Kei menunduk. Dirinya diliputi perasaan bersalah. Benar kata Biru, apa yang Kei dapatkan setelah ia melakukan body shaming kepada orang lain? Penghargaan kah? Tentu tidak. Yang ada pasti rasa sesal yang berujung sakit hati karena ulah diri sendiri.

"Aku sebagai pacarnya Jingga, nggak suka kalau kamu merendahkan dia. Dari tadi aku lihat kamu ngebody shaming Jingga terus," ujar Biru. "Seharusnya, kalian sebagai perempuan saling support bukan malah menyakiti."

Kei menatap Jingga. Kenapa selama ini ia selalu merendahkan Jingga?

"Maaf," ujar Kei pada Jingga.

"Maaf karena selama ini aku suka body shaming kamu Jingga."

Jingga tersenyum.

"Luka yang kamu buat itu nggak cepat sembuh, tapi sebagai perempuan aku mau maafin kamu karena aku mau kasih kesempatan buat orang lain untuk berubah, termasuk kamu," ujar Jingga membuat Kei langsung memeluknya.

Semoga tidak ada lagi celaan fisik dari mulut Kei untuk Jingga. Semoga kita yang berakhir menjadi debu ini mengukir hal-hal baik tanpa ada luka yang akan terus dikenang.



***




Penulis|27/09/2021



Terima kasih sudah membacakan cerita pendek ini. 

Komentar

Postingan Populer