BUNGA


Namanya adalah Bunga. Seorang perempuan yang cantik dan ia sedikit pemalu. Ia memiliki cita-cita menjadi seorang guru SD.

Setiap hari, Bunga selalu menempatkan waktunya untuk pergi ke sekolah hanya untuk melihat anak-anak di kampungnya belajar. Bunga merasa bahagia saat ia melihat tawa bahagia dari anak-anak yang aktif di dalam kelas. Ia ingin sekali menjadi guru bagi anak-anak itu.

Bunga bukanlah seorang perempuan yang pintar di sekolahnya. Namun, Bunga adalah perempuan yang selalu bisa membuat anak-anak di kampung nya bahagia walau dengan cara yang sederhana.

Bukan hanya itu, ia juga berusaha untuk mengajar anak-anak di kampungnya di samping gereja setiap hari Minggu. Ia tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan padanya. Banyak teman-teman Bunga yang tidak suka padanya karena mereka menganggap jika Bunga adalah perempuan yang sok tahu dan sok pintar mengajari anak-anak ilmu pengetahuan, padahal Bunga adalah perempuan yang bodoh di sekolah menurut mereka.

Namun, Bunga selalu tersenyum dan bersabar saat ia mendengar omongan-omongan negatif dari orang-orang di sekitarnya.

Bunga tidak punya Kakak. Ia adalah anak tunggal yang setiap hari harus melakukan apa pun dengan dirinya sendiri. Setiap ulang tahunnya, Bunga tidak pernah mendengar ucapan dari kedua orangtuanya. Apalagi, sebuah pelukan. Orang tua Bunga selalu sibuk berkerja dan setiap kali Bunga ingin mengatakan jika ia butuh kebersamaan dengan orang tuanya, mereka pasti selalu menjawab tidak punya waktu dan mereka berkerja demi Bunga. Padahal, Bunga tidak hanya butuh materi, tapi ia juga butuh non-materi seperti kasih sayang.

Suatu hari, tidak seperti biasanya orang tua Bunga ada di rumah. Bunga sempat binggung dengan orang tuanya karena ada di rumah. Namun, Bunga sangat senang melihat orang tuanya ada di rumah walau selama ini mereka tidak ada waktu untuk pulang ke rumah.

Orang tua Bunga menyuruh Bunga untuk duduk di antara mereka. Bunga pun menurut, jujur momen seperti inilah yang Bunga inginkan. Berada di tengah-tengah orang yang ia sayang. 

Bunga menoleh dengan kaget pada Ibunya saat Ibunya mengatakan jika Bunga harus menjadi seorang dokter. Gaya bicara Ibunya seperti memaksa Bunga untuk harus menjadi seorang dokter. Bunga menunduk, lalu ia perlahan menoleh ke arah Ayahnya saat Ayahnya mengatakan jika Bunga harus menjadi seorang Polwan. Bunga menggeleng. Ia tidak ingin seperti ini. ia ingin menentukan pilihannya sendiri. Apa pun konsekuensi dari apa yang Bunga pilih, ia akan berusaha untuk menerimanya.

Bunga ingin cita-citanya menjadi seorang guru SD di kampungnya terwujud. Bunga ingin agar orang tuanya juga setuju dengan apa yang dicita-citakannya. Namun, sayangnya, apa yang Bunga cita-citakan tidak sejalan dengan orang tuanya. Bunga kira hari ini adalah hari yang membuatnya bahagia karena orang tuanya ada di rumah. Namun, ternyata tidak. Bunga tetap merasakan sepi dan sendiri. 

Bunga dihadapi dua pilihan. Apakah ia harus memilih pilihan dari Ibunya ataukah ia harus memilih pilihan dari Ayahnya?  Bagi Bunga, semua cita-cita itu indah dan patut diperjuangkan agar terwujud, tapi kenapa Bunga harus memilih, padahal ia tahu mana cita-cita yang sesuai dengan kemampuannya. 

Bunga binggung harus menanggapi seperti apa dengan pilihan orang tuanya. Apakah orang tuanya tidak bisa memberi kebebasan untuk Bunga memilih mana cita-cita yang Bunga inginkan?



***


Penulis|12/09/2021



Terima kasih sudah membacakan cerita pendek ini.



Komentar

Postingan Populer