MELODI


Dia tidak tahu betapa sakitnya mencintai seseorang yang cintanya tidak dibalas.


Melodi


****


Melodi menatap buku dairynya yang sudah punya banyak cerita tentang dia. Dia yang selalu ada di hati Melodi, namun sayang, hatinya untuk Melodi mungkin tidak akan ada. Andai saja dia tahu jika mencintainya adalah kebahagiaan untuk Melodi. Dia seolah-olah menjadi manusia yang sempurna di mata Melodi. Seperti langit biru yang memberi tenang untuk Melodi. 

Melodi membuka halaman pertama buku diarynya. Melodi tersenyum. Sebegitu bucinnya ia dulu pada laki-laki yang ia cintai itu sampai-sampai ia menulis kalimat yang tidak masuk akal.

 Nafasmu adalah hidupku. 

Itu kalimat yang Melodi tuliskan saat itu. Lucu sekali, bukan? Melodi sendiri binggung mengapa dia menulis kalimat itu dulu. Halaman pertama sudah Melodi baca. Perih. Perih karena ia tidak seindah dengan kalimat yang Melodi tulis. Ia tidak seperti langit biru yang Melodi pikiran. Melodi menutup kembali buku diarynya. 

Ia tidak ingin merasakan perih lagi. Cukup. Cukup saat itu ia merasakan betapa sakitnya mencintai orang lain, tapi tak pernah dibalas. Seharusnya Melodi tidak banyak berharap untuk cinta yang bertepuk sebelah tangan.


***

Beberapa tahun yang lalu...


"Aku mencintaimu," ujar Melodi. Ia sudah tidak bisa lagi untuk menyimpan lebih lama perasaan ini. Ia ingin dia tahu jika ada seorang perempuan yang selalu memikirkannya sebelum tidur, menulis namanya di buku diary, dan menyebut namanya dalam doa. 

Laki-laki itu menatap binggung kepada Melodi lalu bertanya.

"Apa maksudmu?"

Melodi menghela nafas panjang. Ia pikir laki-laki yang ia cintai itu bisa langsung paham apa yang ia katakan, namun ternyata tidak. Melodi baru sadar akan satu hal. Cinta itu bukanlah sekadar rasa, tapi juga kata kerja yang harus membutuhkan banyak perjuangan.

Melodi menatapnya dengan sebuah senyuman. Lalu berkata.

"Aku mencintaimu."

"Kau mencintaiku?" Tanya laki-laki itu membuat Melodi mengangguk. Melodi berharap ia juga akan mengatakan jika selama ini aku juga mencintaimu.

Namun sayangnya, apa yang Melodi harapan tidak bisa terjadi. Apa berekspektasi kepada orang lain adalah sebuah luka?

Cowok itu, cowok yang sudah dua tahun ada di hati Melodi tidak membalas rasa cinta Melodi. Sungguh itu menyakitkan bagi Melodi.

"Kau tahu? Kau tak pantas menjadi pendamping hidupku. Kau seperti perempuan yang tidak punya harga diri. Apakah kau tidak malu mengatakan perasaanmu kepadaku? Seharusnya aku yang mengatakannya karena aku laki-laki, tapi kau harus ingat, aku tak akan pernah mencintaimu dan jangan pernah mencintaiku lagi."

Apa perempuan tidak punya hak untuk menyatakan cintanya kepada orang yang ia cintai?

Tanpa Melodi sadari, air matanya membasahi kedua pipinya. Perih. Sungguh. Apa mencintai seseorang adalah sebuah luka? Apa mencintai seseorang adalah sebuah kesalahan? 

Melodi memejamkan matanya. Jujur, kalimat yang laki-laki itu katakan seperti pisau yang tergores di tangan Melodi. Melodi pikir laki-laki yang ia cintai berhati tulus, tapi ternyata tidak. Gaya bicaranya saja tidak sopan apalagi perilakunya. Melodi menggeleng kecil, baginya laki-laki yang ada di hadapannya ini adalah manusia paling sempurna tanpa ada cela. Sepertinya Melodi dimabuk oleh cinta. Rasa cintanya kepada laki-laki itu lebih mendominasi ketimbang logikanya.

"Kenapa kau melarangku untuk mencintaimu?" Tanya Melodi lirih.

"Karena aku tak ingin dicintai oleh perempuan sepertimu. Kau tahu? Kau adalah perempuan cupu yang aku kenal. Jadi kumohon, berhentilah mencintaiku."

"Apa kau sudah mempunyai perempuan yang sangat kau cintai?" Tanya Melodi.

"Untuk apa kau menanyakan hal tersebut? Apa kau tidak akan sakit hati jika aku menjawab ia?"

Melodi menghapus air matanya. Mungkin Melodi terlalu percaya diri sampai-sampai ia tidak tahu diri untuk menanyakan hal tersebut. Seharusnya dari awal, Melodi harus tahu diri daripada terlalu percaya diri jika la juga mencintainya.

"Maaf," ujar Melodi.

"Maaf karena aku sudah mencintaimu. Maaf karena aku terlalu percaya diri jika aku akan mencintaiku juga. Semoga kau akan terus bahagia," tambah Melodi.

Melodi tidak bisa berkata kasar kepada laki-laki yang dihadapannya ini. Melodi terlalu mengedepankan perasaan ketimbang logika. Laki-laki itu tidak tahu betapa sakitnya hati Melodi karena cintanya tak terbalas. Walaupun laki-laki itu punya hak untuk menolak, tapi caranya masih kurang baik. 


****

Melodi tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Ia bersyukur karena bisa melewati masa-masa sulit saat itu. Mencoba untuk tidak mencintainya lagi. Mencoba menghapus kenangan manis yang ada dipikirannya. Mencoba untuk tidak menulis namanya di buku diary. Laki-laki itu tidak tahu jika Melodi, perempuan cupu yang ia katakan dulu sudah berhasil menjadi seorang dokter. Walau Melodi gagal dalam dunia percintaan saat itu, tapi ia punya banyak cara untuk bangkit dari kegagalan.






Penulis| 11/11/2021



Terima kasih sudah membacakan cerita pendek ini.




Komentar

Postingan Populer