CINTA ITU HILANG
Kalau ada yang lebih berharga di dunia ini, itu cuma satu. Melihat orang tua masih utuh dan kita sudah tahu bagaimana hidup ini berkerja. Sehingga jika suatu hari nanti mereka pergi, mereka bisa pergi tanpa beban dan kita ditinggal dengan sudah mengikhlaskan.
***
Namanya Dini. Dia adalah anak bungsu perempuan yang sangat dekat dengan Ayahnya. Setiap sore mereka pasti meluangkan waktu untuk berbagi cerita. Sore setelah hujan, keluarga Dini berkumpul bersama sambil menikmati suasana kampung setelah hujan dan tidak lupa menikmati secangkir kopi. Percayalah, bagi anak rantau hal itu adalah hal yang paling dirindukan.
Suatu hari, Dini bertanya pada Ayahnya;
"Bagaimana kalau saya dapat nilai rendah saat ujian nanti?"
"Tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah belajar. Jangan sampai nanti kamu stress. Intinya kamu sehat," ujar Ayah Dini.
Itu adalah kalimat yang selalu bisa menenangkan Dini saat ia mulai takut kalau mendapatkan nilai rendah. Dini merasa tenang karena Ayahnya tidak memaksa untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Kalau kalian bertanya, hal apa yang paling Dini syukuri di dunia ini adalah memiliki Ayah seperti Ayahnya.
***
Cita-cita Dini adalah bisa menjadi penulis dan melanjutkan studinya di luar negri. Setiap kali Dini bercerita tentang impiannya pada Ayahnya, Dini merasa kalau mimpinya pasti akan terwujud karena Ayahnya selalu mendukung dan meyakini Dini tentang impian itu.
"Nanti kalau kamu sudah lulus S -1, Ayah akan usahakan supaya kamu belajar bahasa Inggris di tempat kursus supaya kamu bisa dapat beasiswa di luar negeri," ujar Ayah Dini.
Kalian tahu apa patah hati seorang anak perempuan? Melihat Ayahnya pura-pura tegar padahal dia sedang lelah, sedang tidak baik-baik saja. Tujuannya cuma satu. Supaya anaknya tetap bisa menjalani hidup dengan tenang tanpa harus merasa khawatir. Ayah Dini kadang seperti itu. Ia selalu mengatakan hal-hal yang membuat Dini tenang dan damai. Dini juga kadang merasa bersalah saat Ayahnya mau melakukan apapun yang ia suruh meskipun Ayahnya sedang tidak baik-baik saja. Tujuannya cuma satu. Supaya anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang lebih berkualitas.
Ayah Dini memang bukan sosok Ayah yang sempurna, tapi bagi Dini ia sosok Ayah yang paling jago menenangkan anaknya. Ia tahu betul bagaimana membuat Dini tenang meskipun dalam hal yang benar-benar panik.
Ayah Dini memang bukan terlahir dari keluarga yang memiliki banyak hal. Tapi Ayah Dini selalu berani bicara dan tidak takut serta disiplin. Ayah Dini memang terkenal displin akan waktu. Ia mau kita menghargai waktu karena ia percaya waktu juga akan menghargai kita.
***
Hari itu adalah hari Minggu. Dini bangun dari tempat tidurnya dan ia melanjutkan untuk mengerjakan tugas bahasa Inggris. Setelah 10 menit, ia mendapatkan panggilan dari kakaknya.
"Hallo Dini, Ayah meninggal dunia."
Kalian tahu itu adalah hal yang paling menyakitkan bagi anak yang baru mulai beranjak dewasa. Belum tahu dunia ini seperti apa dan tentunya masih membutuhkan sosok Ayah.
Dini benar-benar tidak menyangka bahwa akan secepat ini. Dini belum sempat membalas jasa dari Ayahnya. Dini masih butuh Ayahnya kedepannya. Tapi kenapa harus secepat ini. Padahal masih banyak hal yang belum sempat Dini tanyakan pada Ayahnya.
Dini tidak menolak kalau Ayahnya meninggal dunia karena kita semua juga akan pergi, tapi Dini belum berhasil membalas jasa Ayahnya dan Ayahnya sudah tidak ada.
Cinta pertama itu benar-benar hilang dan tak akan pernah kembali.
Penulis|22/10/2022
***
Terima kasih sudah membacakan cerpen ini.
Komentar
Posting Komentar