PADA SUATU HARI NANTI
Membaca novel.
Itu kegiatan yang sedang Nila lakukan. Sebenarnya ada banyak novel yang sudah Nila baca, tapi Nila punya kebiasaan membaca ulang Novel yang sudah ia baca sebelumnya.
"Nila," panggil Jingga.
Nila meletakkan novel nya di meja lalu melihat ke arah Jingga.
"Ada apa?"
"Jangan lupa nama aku ya. Aku takut kalau kita sudah tamat SMA, kamu lupa sama aku," ujar Jingga.
Nila tersenyum.
"Jingga kamu tidak perlu takut kalau ada orang yang pergi dan ninggalin kamu. Kamu hanya perlu takut kalau diri kamu sendiri yang ninggalin kamu. Itu lebih menyakitkan ketimbang kamu baca novel yang sad ending," ujar Nila.
"Aku cuma takut kalau orang-orang terdekatku semuanya pergi. Aku takut sendiri. Cuma kamu yang aku punya Nila."
"Jingga, percaya saja kalau suatu hari nanti kamu tidak akan lagi merasa
sendiri," ujar Nila.
Jingga terdiam. Ia masih binggung maksud dari perkataan Nila.
"Nila, apa kamu masih percaya kalau kita akan tetap bahagia pada suatu hari nanti?"
Nila mengangguk.
"Iya Jingga. Aku percaya dan berbahagialah kita yang percaya kalau kita akan tetap bahagia pada suatu hari nanti."
Nila lalu berdiri dan memeluk Jingga. Ia tahu keadaan Jingga.
"Nila, kalau boleh jujur, aku tidak mau tamat. Aku binggung mau pulang ke mana. Cuma sekolah jadi rumah paling nyaman saat ini," ujar Jingga. Nila membiarkan Jingga bercerita.
"Aku mau pulang tapi aku malah merasa asing kalau ada di rumah," ujar Jingga.
Tidak semua orang punya tempat untuk pulang.
Sebagian memilih untuk mengelilingi alam semesta karena mereka menemukan rumah di setiap perjalanan yang mereka tempuh.
"Jingga kamu dengar aku ya, akan ada masa di mana kesedihan, ketakutan, kegelisahan yang kamu alami akan berakhir. Kamu hanya perlu percaya kalau kamu layak untuk hidup bahagia. Semesta tahu yang semestinya," ujar Nila.
"Percaya saja Jingga kalau pada suatu hari nanti kamu akan punya tempat pulang yang paling nyaman yaitu diri kamu sendiri," tambah Nila.
"Jangan pernah lupa kalau rumah paling nyaman itu diri sendiri," ujar Nila.
Jingga tersenyum.
"Terima kasih Nila."
Penulis|17/01/2023
Terima kasih sudah membacakan cerpen ini.
Komentar
Posting Komentar