TERIMA KASIH
Aku pernah bertemu dengan Dia. Dia memang bukan cinta pertama. Dia juga bukan orang yang sesuai dengan apa yang aku idamkan. Tapi Dia... Dia orang yang membuat hatiku deg-degan setiap kali hari Senin tiba. Teman-temanku deg-degan karena Matematika, aku malah deg-degan setiap kali aku berpapasan di koridor sekolah saat itu. Dia orang yang selalu membuatku berjinjit untuk melihat; 'Kira-kira dia baris di bagian mana ya?' Dia orang yang selalu membuat aku tersenyum meski sesekali aku jengkel karena terlalu sering memikirkannya sampai lupa belajar. Dia memang bukan orang yang paling pintar di sekolah atau paling tampan yang mukanya di tempel di Mading. Tapi satu hal yang membuatku tertarik padanya. Sederhana. Iya, satu kata tapi sungguh bermakna bagiku.
Awalnya, aku pikir ini hanya perasaan kagum saja yang konon katanya pasti akan berlalu juga seiring berjalannya waktu. Tapi dugaanku ternyata salah. Aku malah penasaran siapa dia sebenarnya. Apa yang dia suka. Dia dari mana dan masih banyak lagi. Bagiku, ada yang istimewa dari dirinya. Pertemuan kami memang tidak seindah seperti kisah orang lain. Aku masih ingat betul saat MOS ( Masa Orientasi Sekolah) dia duduk paling depan. Mataku tak sengaja tertuju padanya lalu kemudian aku tersenyum.
Seiring berjalannya waktu, aku selalu berusaha untuk mencari tahu siapa dia dan hal yang membuatku ingin berteriak adalah saat aku tahu siapa namanya. Teman dekatku tahu siapa dia. Tapi temanku seolah tidak percaya kalau aku bisa jatuh suka. 'Kamu bisa jatuh cinta sama orang lain juga ya? Ternyata kamu masih sama orang pada umumnya. Aku pikir, orang pintar kaya kamu tidak akan jatuh cinta karena sibuk belajar,' ujar temanku itu. Aku hanya tersenyum meski dalam hati berteriak tidak suka dilabeli pintar. Temanku lalu bertanya. 'Kenapa kamu suka dengan dia?' Aku terdiam sesaat.'Karena dia sederhana.'
Aku memang tahu siapa dia tapi dia belum tahu siapa aku. Sesekali aku menulis beberapa novel ataupun cerpen agar bisa berdialog dengannya meskipun dalam bentuk tulisan. Aku ingin mengabadikan kisah itu melalui tulisan. Karena bagiku, kisah itu terlalu indah.
Sesekali ingin rasanya berinteraksi dengannya secara langsung. Namun, aku seolah menjadi manusia dingin yang ketika dia ingin berjalan di depanku aku malah pergi. Seolah dia adalah duri bagiku yang ingin aku hindari. Padahal dalam hati, aku menjerit-jerit. Aku memang pernah jatuh cinta sebelumnya, tapi kali itu berbeda. Perasaan saat itu sangat kuat dibandingkan perasaan-perasaan sebelumya saat aku jatuh cinta. Dia orang yang menemani masa putih abu-abuku. Dia juga orang yang selalu membuatku keluar kelas pada saat jam istirahat dan yang paling menyenangkan adalah pelajaran olahraga kelasku dan kelasnya di jam yang sama. Jadi aku bisa melihat bagaimana dia berinteraksi dengan orang lain. Atau sekadar melihat senyumnya. Kupikir itu sudah cukup bagiku meski dalam hati aku ingin ia tahu perasaan konyol yang kurasakan saat itu.
Aku tidak pernah menyesal dengan perasaanku saat itu. Aku tidak pernah menyesal saat aku tahu aku sedang jatuh suka dengannya. Dia akan aku abadikan di setiap karya tulisku. Meskipun aku tahu dia sudah punya bunga lain di hidupnya, aku turut bahagia. Aku bahagia sudah bertemu dengannya. Bagiku itu sudah jauh lebih dari cukup. Aku memang tidak mendapatkan cintanya, tapi aku pikir aku justru berterima kasih karena ia adalah salah satu orang yang membuatku percaya cinta itu benar-benar ada. Terima kasih untuk perasaanku saat itu yang membuat aku tersenyum malu bahkan ingin memukuli diri sendiri saking aku rindu momen-momen itu.
_Cinta yang indah adalah cinta yang tumbuh tanpa alasan dan tanpa harus dipaksa._
Penulis|22/03/2023
Terima kasih sudah membacakan cerita pendek ini.
Aaaaa manissss bangetttt 🌼🌺🌺
BalasHapusTerima kasih banyak Ami.
HapusKerennnnnn cikkj💐💐
BalasHapusTerima kasih momang
Hapus